Siapa yang tak ingin berangkat haji. Mengerjakan haji adalah sebuah nikmat tak terkata yang bisa dirasakan oleh orang yang mampu menunaikannya. Setiap orang yang berusaha taat menjalankan perintah Allah, pasti menginginkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Siapapun dia, kaya atau miskin. Tetapi, jangan salah. Tak sedikit orang yang telah dicukupkan hartanya dan diberi nikmat sehat, sering menunda-nunda kewajiban tersebut dengan berbagai alasan. Karena perkara haji bukan semata ada tidaknya uang, tetapi perkara sudahkah Allah “mengundang”.
Demikianlah pembuka yang disampaikan Sekda Provinsi Kepri, H.T.S. Arif Fadillah saat membuka pengajian pekanan Jumat (11/8) yang disejalankan dengan pelepasan jamaah haji ASN Provinsi Kepri tahun 2017. Acara yang dilaksanakan di aula Wan Seri Beni, Dompak ini memang sengaja dirancang untuk melepas sekaligus mendoakan calon haji dari ASN Provinsi Kepri yang tahun ini berkesempatan memenuhi rukun Islam yang kelima tersebut. Tercatat ada 30 jamaah dari ASN yang berangkat. Diantaranya adalah Kepala Biro Adminitrasi Layanan Pengadaan, Misbardi, S.Sos, M.Si dan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Drs. Tarmidi, M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Arif berpesan agar calon jamaah haji benar-benar memusatkan perhatian dan pikirannya pada rangkaian ibadah yang nanti akan dijalani. Menyiapkan fisik agar tetap prima adalah salah satu kunci agar ibadah tetap khusyuk dan optimal. Terlebih lagi rangkaian ibadah itu akan dijalani di saat puncak musim panas datang menjelang. Sebagai perbandingan, suhu terpanas di Indonesia saat ini kisaran 37 derajat celsius. Bandingkan dengan suhu puncak musim panas di Arab Saudi yang kabarnya sudah mencapai 50 derajat Celsius.
“Ibadah haji itu selain ibadah fisik, juga ibadah sabar. Perbanyak sabar. Sikap ini bahkan sudah mulai diuji begitu kita memutuskan untuk berangkat ke tanah suci. Di tanah suci apalagi, saat berkumpulnya jutaan jemaah dengan berbagai sifat, tabiat, dan kebiasaan yang berbeda, tentu ada saja yang bisa memancing amarah kita!” ungkap Arif dalam arahannya.
Selepas sambutan sekda, upacara tepuk tepung tawar pun digelar. Upacara ini merupakan salah satu adat Melayu, khususnya di Kepulauan Riau yang hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak masa-masa raja hingga saat ini. Upacara yang diadopsi dari ritual Hindu ini menyertai berbagai peristiwa penting dalam masyarakat, seperti kelahiran, khitanan, dan sebagainya. Dalam adat Melayu, tepung tawar diartikan menghapuskan atau membuang segala penyakit. Atau dapat juga dilambangkan sebagai curahan rasa syukur dan kegembiraan atas niat baik yang akan dilaksanakan, khususnya tentang ibadah haji.
Upacara ini diawali dengan naiknya para calon Jemaah haji dari ASN Provinsi Kepri ke depan panggung. Di sana, sudah tersedia kursi yang telah disusun dalam dua baris, dengan formasi laki-laki di depan, dan perempuan di belakang. Selanjutnya, sekda, tokoh masyarakat, dan Ketua Lembaga Adat Melayu mengambil berkas ikatan daun kalinhujang, mencecahkannya ke dalam mangkuk berisi air dan lalu dirinjis-rinjiskan di atas kedua telapak tangan para jamaah. Suasana khidmat dan haru menguar terasa, tidak hanya bagi para jamaah juga bagi pegawai yang menyaksikannya. Upacara tersebut diiringi shalawat kepada nabi dengan harapan semua jamaah calon haji dapat menjadi haji mabrur dan kembali dalam keadaan sehat seperti sedia kala. (red/NS)